Senin, 10 September 2012

TUJUAN PENDIDIKAN 1


                         TUJUAN PENDIDIKAN 1                 

MAKALAH
Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Tafsir 2 yang dibimbing oleh:
Bapak Prof.DR.H.A.Thib Raya, MA
Semester VI B.
                                                
   Disusun oleh:
      KELOMPOK III :
1.      NURKHOLIS
2.      NIA NURDAENI
3.      SITI JUBAEDAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG ( UMT )
Sekretariat : Jl. Perintis Kemerdekaan I/33  Cikokol - Kota Tangerang - Banten 15118

2012 M / 1433 H

                                           










 
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puja dan puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan limpahan rahmat-Nya kepada kita semua selaku para hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita menuju terangnya Iman dan Islam, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.
Alasan penulis memilih judul: “TUJUAN PENDIDIKAN 1  adalah agar penulis lebih memahami tentang tafsir ayat-ayat tentang tentang tujuan pendidikan bagian pertama, dan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir semester VI fakultas Agama Islam pada mata kuliah Tafsir 2.
Dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1.      Bapak. H. Ahmad Badawi, S.Pd, M.M selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang.
2.      Bapak Prof.DR.H.A.Thib Raya, MA selaku dosen pembimbing mata kuliah Tafsir2.
3.      Rekan-rekan seperjuangan dalam menuntut ilmu di Kampus UMT.
 Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan rekan-rekan mahasiswa. Saya menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu segala kritik dan saran yang membangun akan saya terima demi kesempurnaan diskusi atau makalah selanjutnya dimasa yang akan datang.
Tangerang,     31 Maret  2012 M
                08 Jumadil Awal 1433 H


Penulis
                    



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………..........ii
BAB I  PENDAHULUAN ……………………………………………………….1
  1. Latar Belakang Masalah …………………………………………………..1
  2. Perumusan Masalah ……………………………………………….............1
  3. Tujuan Penulisan ………………………………………………………….1
  4. Sistematika Penulisan ……………………………………………………..2

BAB II  TUJUAN PENDIDIKAN 1 ………………………………. …………...3
  1. Penafsiran Q.S. Ali Imran ayat 138-139 …………………………………..3
  2. Penafsiran Q.S. Al Fath ayat 29…............................................................... 7

BAB III  PENUTUP ……………………………………………………………..13
  1. Kesimpulan………………………………………………………………...13
  2. Saran……………………………………………………………………….13

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………14





 
BAB I
PENDAHULUAN

A . Latar Belakang                                                                  
Seperti kita ketahui sendiri, Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantara Malaikat Jibril AS secara berangsur-angsur, berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas atas petunjuk tersebut serta sebagai pembeda antara yang haq dan bathil agar bisa membebaskan manusia dari kesesatan menuju jalan yang lurus. Atas dasar tersebut, maka kami mencoba membahas Tafsir Surat Ali Imran ayat 138-139  yang menjelaskan tentang salah satu fungsi Al-Qur’an dari sekian banyak fungsi lainnya yaitu sebagai petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang benar agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Dan juga Tafsir surat Al Fath ayat 29 yang menjelaskan tentang pribadi Rasulullah Saw dan para sahabat beliau. Beliau adalah seorang manusia biasa, hanya saja beliau di beri wahyu oleh Allah Swt dan menjadi utusan-Nya. Beliau adalah Nabi penutup dan sekaligus Rasul yang terakhir. Beliau diangkat menjadi utusan Allah itu tidak untuk dipuji oleh sekalian umatnya, tidak untuk disanjung dan dijunjung tinggi sampai setinggi langit, serta tidak untuk di dewa-dewakan, atau senantiasa diperingati hari lahirnya oleh segenap pengikutnya, tetapi untuk diikuti kepeminpinannya dalam urusan beriman kepada Allah, untuk dituruti tuntunannya dalam hal cara beribadah kepada-Nya, serta untuk dicontoh akhlak dan budi pekertinya dalam cara bergaul dan bermasyarakat dengan manusia.

B . Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang dapat penulis rumuskan adalah sebagai berikut :
1. Apa penafsiran Q.S. Ali Imran ayat 138-139 itu?
2. Apa penafsiran Q.S Al Fath ayat 29 itu?
C . Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui  penafsiran Q.S. Ali Imran ayat 138-139.
2.      Untuk mengetahui penafsiran Q.S. Al fath ayat 29.
D.  Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini dibagi menjadi 3 (tiga) bab, yaitu :
BAB I  PENDAHULUAN
Pendahuluan berisi uraian tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II  TUJUAN PENDIDIKAN 1
Tujuan pendidikan 1 berisi uraian tentang penafsiran Q.S. Ali Imran:138-139, dan penafsiran Q.S. Al Fath:29

BAB III PENUTUP
Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka berisi referensi penulis dalam menyusun makalah.

















BAB II
TUJUAN PENDIDIKAN 1


A. PENAFSIRAN  Q.S. ALI IMRAN: 138-139        
1.  Teks Surat Ali Imran Ayat 138-139
#x»yd ×b$ut/ Ĩ$¨Y=Ïj9 Yèdur ×psàÏãöqtBur šúüÉ)­GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ  Ÿwur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ   
2.  Terjemah Surat Ali Imran Ayat 138-139
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa (138). Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139).
                                                  
3.  Mufrodat (Kosakata)
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia
#x»yd ×b$ut/ Ĩ$¨Y=Ïj9
dan petunjuk
Yèdur
dan pengajaran
×psàÏãöqtBur                                 
bagi orang-orang yang bertakwa
úüÉ)­GßJù=Ïj9
dan janganlah kamu merasa lemah
Ÿwur (#qãZÎgs?
dan janganlah pula kamu bersedih hati
Ÿwur (#qçRtøtrB
padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya)
ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$#
jika kamu (benar-benar) beriman
bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB
                                                                                              



4. Tafsir Surat Ali Imran Ayat 138-139            
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa (138).
   Al-Qur’an ini adalah penerang bagi manusia secara keseluruhan. Ini adalah kutipan peristiwa kemanusiaan telah jauh berlalu, yang manusia sekarang tidak dapat mengetahuinya jika  tidak akan penerangan (penjelasan) yang menunjukannya. Akan tetapi, hanya segolongan manusia tertentu saja yang mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan pelajarn dari padanya, mendapatkan manfaat dan menggapai petunjuknya. Mereka itu adalah golongan “muttaqin” yaitu orang-orang yang bertaqwa.
Hal ini sesuai pandangan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 2
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (AL-Qur’an) ini tidak ada kerguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”
Selain itu Rasulullah SAW bersabda:          

عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه
“Dari Imam Malik, beliau menyampaikan sesungguhnya Rasullah SAW Bersabda: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kamu takkan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi.”
Surat Ali Imran ayat 138 juga memerintahkan untuk mempelajari sunnatullah atau yang biasa disebut oleh seorang ilmuwan yang bernama Alexis Carrel sebagai hukum-kukum kemasyarakatan/alam/materi. Hukum-hukum Alam yaitu hukum-hukum  yang bersifat umum dan pasti, tidak ada satu pun, di negeri manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila melanggarnya. Manusia yang tidak bisa membedakan antara yang halal dan haram, yang baik dan buruk, mereka akan terbentur oleh malapetaka, bencana dan kematian. Ini semata-mata adalah sanksi otomatis, karena kepunahan adalah akhir dari mereka yang melanggar hukum-hukum alam. Tiadk heran hal ini diungkap Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengatur kehidupan masyarakat dan berfungsi mengubah masyarakat dan anggota-anggotanya dari kegelapan menuju cahaya, dari kehidupan negatif menjadi positif.
Pernyataan Allah: (Al-Qur’an) Ini adalah penjelasan bagi manusia  juga mengandung makna bahwa Allah tidak akan langsung menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi itu. Karena terlebih dahulu Allah akan memberikan petunjuk jalan dan peringatan (Hidayah-Nya). Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139.
Uraian yang diantar oleh ayat sebelumnya yang menguraikan tentang adanya Sunnatullah atau hukum alam yang berlaku kepada manusia. Kalau pada perang uhud Kaum Muslimin tidak meraih kemenangan, bahkan menderita luka dan banyak yang mati syahid, walaupun dalam perang Badar mereka meraih kemenangan dan berhasil menawan dan membunuh sekian banyak lawan mereka, karena itu adalah bagian dari Sunnatullah. Namun demikian, mereka tidak perlu berputus asa. Karena itu, Janganlah kamu merasa lemah, menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmaninya dan janganlah kamu bersedih hati akibat apa yang kamu alami perang Uhud, atau peristiwa lain yang serupa, tapi kuatkan mentalmu untuk berusaha yang lebih baik. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya) di sisi Allah baik di dunia maupun akhirat, di dunia karena kamu memperjuangakan kebenaran dan di akhirat karena kamu akan mendapatkan surga. Jadi mengapa kamu bersedih hati sedangkan yang gugur diantara kamu akan menuju surga dan yang luka akan mendapat luka akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Ini jika kamu (benar-benar) beriman, yakni jika keimanannya benar-benar mantap dalam hatinya. Maka dari itu, kamu tidaklah perlu bersikap lemah dan bersedih hati atas apa yang menimpamu dan luput darimu karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Aqidahmu lebih tinggi karena kamu hanya menyembah kepada Allah saja. Sedangkan mereka menyembah kepada selain Allah. Maka jika kamu benar-benar beriman maka kamu akan ditinggikan derajatnya dan tidak akan mersa sedih karena semua itu adalah sunnatullah yang bisa ditimpakan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi, hanya kamulah yang akan mendapat akibat (balasan kebaikan) setalah berijtihad dan berusaha keras dalam menempuh ujian.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:  
 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان  
“Orang mu’min yang kuat (hatinya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah dan didalam keduanya terdapat kebaikan (karena sama-sama beriman), dan bersemangatlah atas apa-apa yang akan bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu berputus asa dan jika kamu sedang mendapat  cobaan maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat seperti ini dan seperti itu” akan tetapi katakanlah “ini semua adalah kuasa Allah dan merupakan kehendak-Nya” karena sesungguhnya mengandai-andai akan membuka (pintu) godaan dari perbuatan syetan”.
Kandungan Hukum dan Aspek Tarbawi:
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa (138).
Mempelajari sejarah umat-umat terdahulu dan melihat berkasnya dengan melawat mengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran. Ilmu kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup manusia didalam alam ini. Dalam ayat ini kita berjumpa dengan anjuran mengetahui mengetahui beberapa ilmu penting. Pertama, sejarah; kedua, ilmu bekas peninggalan sejarah; ketiga ilmu siasat perang; keempat, ilmu siasat mengendalikan Negara. Di dalam sejarah misalnya banyak kita temui hal-hal penting. Meskipun tidak seluruhnya ditulis di Al-Qur’an hanya berkenaan dengan perjuangan Rasul-rasul., misalnya perjuangan Nabi Musa AS menentang kezhaliman raja Fir’aun, atau Nabi Ibrahim AS menghadapi kamunya dan Raja Namrud, namun yang tidak tertuils dalm Al-Qur’an dapat kita cari dari bahan lain. Misalnya penyerbuan tentara Iskandar Macedonia dari Barat ke Timur. Mengapa Iskandar yang tentaranya tidak mencukupi 100.000 orang bisa mengalahkan tentara Darius, Raja Persia, yang jumlahnya hampir setengah juta? sebab tentara Iskandar ringan, sigap, lincah. Sedangkan tentara Darius telah berat oleh pakaian dan perhiasan. Darius hanya menggantungkan kekuatan hanya kepada banyaknya jumlah tentara, padahal Iskandar mempunyai disiplin yang teguh dan tentara yang cekatan. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada kita tentang masalah-masalah strategi pertempuran menghadapi musuh, sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini, kita dianjurkan mengetahui hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan dalam membela kebenaran. Dan Janganlah kamu merasa lemah dan bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139).
Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat, karena hal tersebut akan mengakibatkan seseorang kehilangan semangatnya. Sebaliknya Allah tidak melarang hubungan seseorang dengan apa yang dicintainya, yaitu harta, kekayaan, atau teman yang dapat memulihkan kekuatannya, serta dapat mengisi hatinya dengan kegembiraan. Untuk itu kalian adalah orang-orang yang lebih utama memiliki keteguhan tekad lantaran pengetahuan kalian tentang balasan yang baik dan berpegang pada kebenaran.
Sekali waktu kemenangan berada pada pihak yang bathil, begitu pula sebaliknya karena semua itu adalah Sunatullah. Sesungguhnya hari kemenangan hanyalah bagi orang yang mengetahui dan mau memelihara sebab-sebab keberhasilan dengan sebaik-baiknya seperti kesepatan, tidak pernah berselisih, teguh, selalu berfikir, kuat tekadnya, dan mengambil persiapan serta menyusun segala kekuatan yang ada untuk menghadapinya.

B. PENAFSIRAN Q.S. AL FATH : 29
1. Teks Surat Al Fath ayat 29
Ó£JptC ãAqߧ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/ ( öNßg1ts? $Yè©.â #Y£Úß tbqäótGö6tƒ WxôÒsù z`ÏiB «!$# $ZRºuqôÊÍur ( öNèd$yJÅ Îû OÎgÏdqã_ãr ô`ÏiB ̍rOr& ÏŠqàf¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßgè=sVtB Îû Ïp1uöq­G9$# 4 ö/àSè=sVtBur Îû È@ŠÅgUM}$# ?íötx. ylt÷zr& ¼çmt«ôÜx© ¼çnuy$t«sù xán=øótGó$$sù 3uqtFó$$sù 4n?tã ¾ÏmÏ%qß Ü=Éf÷èムtí#§9$# xáŠÉóuÏ9 ãNÍkÍ5 u$¤ÿä3ø9$# 3 ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# Nåk÷]ÏB ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $JJÏàtã ÇËÒÈ   

2. Terjemah Surat Al Fath ayat 29              
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam lnjil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan menegakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.  

3.  Mufrodat (Kosakata)
Muhammad itu adalah utusan Allah
Ó£JptC ãAqߧ «!$#
dan orang-orang yang bersama dia
tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB
keras terhadap orang-orang kafir
âä!#£Ï©r& n?tã Í$¤ÿä3ø9$#
berkasih sayang sesama mereka
âä!$uHxqâ öNæhuZ÷t/
kamu lihat mereka ruku'
öNßg1ts? $Yè©.â #Y£Úß
mencari keridhaan Allah dan Karunia-Nya
tbqäótGö6tƒ WxôÒsù z`ÏiB «!$# $ZRºuqôÊÍur
Tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud
öNèd$yJÅ Îû OÎgÏdqã_ãr ô`ÏiB ̍rOr& ÏŠqàf¡9$#
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat
y7Ï9ºsŒ öNßgè=sVtB Îû Ïp1uöq­G9$#
Yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya
?íötx. ylt÷zr& ¼çmt«ôÜx©
maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia
¼çnuy$t«sù xán=øótGó$$sù
Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya
Ü=Éf÷èムtí#§9$#
Dan tegak lurus di atas pokoknya
xán=øótGó$$sù 3uqtFó$$sù
Karena Allh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan orang-orang mu’min
xáŠÉóuÏ9 ãNÍkÍ5 u$¤ÿä3ø9$#
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan menegakan amal yang saleh
ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$#
Di antara mereka ampunan dan pahala yang besar  
Nåk÷]ÏB ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $JJÏàtã
4. Tafsir Surat Al Fath ayat 29
Menurut al-Hâkim dan lain-lain dari al-Miswar bin Makhramah dan Marwân bin al-Hakam, surat al-Fath ini mulai dari awal hingga akhir diturunkan antara Makkah dan Madinah dalam konteks perjanjian damai Hudaibiyyah. Perjanjian ini kelak mengantarkan penaklukan kota Makkah dan tampilnya negara Islam sebagai adidaya baru di Jazirah Arab.
Agar dapat dipahami konteksnya, ayat ini harus dihubungkan dengan ayat sebelumnya, yang dalam istilah ‘Ulûm al-Qur’ân disebut Munâsabât bayn al-âyah, yaitu  ayat:
( هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا )                   Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa kebenaran dan agama yang haq untuk memenangkannya atas agama-agama yang ada seluruhnya. Cukuplah Allah sebagai saksinya. (QS al-Fath : 28).
Dari sinilah frasa Muhammad[un] Rasûlullâh (Muhammad Rasulullah) dapat  dipahami kedudukannya sebagai kalimat penjelas (jumlah mubayyinah) terhadap Rasul yang diutus oleh Allah dengan membawa hidayah dan agama yang haqq. Mengenai kata Muhammad[un] dalam ayat di atas, sebagian ulama tafsir mempunyai dua pandangan. Ada yang menyatakannya sebagai subyek (mubtada’), dengan kata  Rasûlullâh merupakan predikat (khabar), ada juga yang menyatakan, bahwa kata Muhammad[un] adalah subyek (mubtada’), Rasûlullâh adalah sifat subyek, sedangkan predikatnya adalah asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika kita memilih pendapat yang pertama,  konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah. Sebaliknya, jika pendapat kedua yang dipilih, konotasinya: Muhammad, Rasulullah.
Sementara itu, frasa walladzîna ma‘ah[u] (dan orang-orang yang bersamanya), dengan diawali huruf waw di depannya, ada yang menyatakan sebagai subyek kedua setelah subyek pertama, yaitu: Muhammad[un]; kemudian frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr—menurut pendapat ini—kedudukannya sebagai predikat kedua setelah predikat pertama, yakni kata Rasûlullâh. Namun, ada juga yang menyatakan, bahwa frasa walladzîna ma’ah[u] adalah ma‘thûf ‘alayh (frasa yang dihubungkan) dengan Muhammad[un] sehingga subyek dan predikatnya hanya satu, masing-masing adalah Muhammad[un] dan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika dipilih alternatif pertama, konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras terhadap orang kafir dan sangat mencintai sesama mereka. Jika pilihan kedua yang diambil, konotasinya: Muhammad, utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras terhadap orang kafir dan sangat mencintai sesama mereka.
Inilah hasil pembacaan terhadap struktur lafal yang berbeda dan implikasinya terhadap makna yang terdapat dalam ayat tersebut. Hanya saja, perbedaan tersebut tidak membawa implikasi yang serius terhadap makna ayat di atas secara keseluruhan. Di sisi lain, as-Suyûthi, menjelaskan bahwa dinyatakannya: asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-orang Kafir) dan ruhamâ’ baynahum (mencintai sesama mereka), menunjukkan keunikan sifat Rasulullah dan para sahabat, yang memadukan ketegasan dan kekerasan (terhadap orang kafir) dengan kasih-sayang (terhadap sesama Muslim). Seandainya hanya dinyatakan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-orang kafir), tentu akan menimbulkan persepsi, seakan-akan mereka adalah orang-orang yang kasar. Karena itu, dengan dinyatakan, ruhamâ’ baynahum (mencintai sesama mereka), kesan tersebut hilang. Struktur seperti ini, persis seperti yang digunakan oleh Allah dalam ayat lain:
( أَذِلَّةٌ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٌ عَلَى الْكَافِرِيْنَ )               
Yang bersikap lemah-lembut kepada orang Mukmin dan yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir. (QS al-Maidah: 54).

Lalu apa maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (sangat keras terhadap orang-orang Kafir) dan ruhamâ’ baynahum (sangat mencintai sesama mereka) dalam ayat tersebut? Apakah ini hanya sifat Rasul dan para sahabatnya yang ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah saja atau bersifat umum meliputi karakter seluruh para sahabat?
Kata asyiddâ’ adalah bentuk plural non-jender (jamak taktsîr) dari kata  syadîd   (orang yang keras). Kata ruhamâ’ juga merupakan jamak taktsîr dari kata rahîm (orang yang mengasihi). Kebanyakan ahli tafsir, seperti al-Qurthubi dan as-Syaukani, menjelaskan konotasi dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr tersebut dengan menggunakan penafsiran Ibn ‘Abbâs, pakar tafsir, murid Rasulullah saw., yang menyatakan: ghilâdh[un] ‘alayhim ka al-asad[i] ‘alâ farîsatih[i] (keras terhadap mereka, bak singa terhadap mangsa buruannya). Secara umum, as-Suyuthi, menjelaskan maksud frasa tersebut dan frasa berikutnya, bahwa mereka keras dan tegas terhadap siapa saja yang menyimpang dari agamanya, dan saling kasih-mengasihi di antara sesama mereka (Muslim). Inilah maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr ruhamâ’ baynahum. Sebagian ahli tafsir, menyebutkan bahwa sifat tersebut merupakan sifat sahabat yang terlibat dalam kasus Hudaibiyah. Namun, pandangan ini dibantah oleh as-Syaukani, berdasarkan kaidah:
اَلْعُمُوْمُ يَبْقَى بِعُمُوْمِهِ مَالَمْ يَرِدْ دَلِيْلُ التَّخْصِيْصِ      
Keumuman itu tetap berlaku sesuai dengan keumumannya selama tidak ada dalil pengkhusus yang dinyatakan (untuk mengkhususkannya).

Dari sini, beliau berpendapat, bahwa yang lebih tepat adalah menginterpretasikan makna umum sesuai dengan keumumannya. Dengan demikian, sifat tersebut merupakan sifat seluruh sahabat Rasulullah Saw.

Mereka juga ruku’ dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah sifat-sifat yang agung dan luhur serta tinggi. Demikian itulah keadaan orang mukmin pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang bersama Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa. Kalimat asyidda’u ‘ala al-kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya.
“… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat …” (QS. 24:2). Dari hal diatas dapat kita ketahui makna yang terkandung dari ayat diatas sebagai berikut:
1. Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia.
2. Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat.
3. Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.


Kandungan Hukum dan Aspek Tarbawi:
Di dalam Tafsir Ibnu Kasir di terangkan tentang ayat tersebut bahwa :
Allah Swt mengabarkan tentang Nabi Muhammad saw, bahwasanya beliau adalah utusa-Nya yang hak tanpa ada keraguan, Allah Swt berfirman  ( مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّه ) kalimat ini merupakan susunan mubtada’ dan khobar, semua sifat Rasulullah Saw sangat bagus, kemudian Allah Swt memuji para sahabatnya dengan firman-Nya yang berbunyi :
( وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ )
pujian ini sama seperti firman Allah Swt dalam surat Al- maidah ayat 54 yang berbunyi :
( فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ )
inilah sifat seorang mu’min yang mempunyai sifat keras dan bengis terhadap orang kafir, pengasih dan berbuat kebaikan kepada orang yang suka berbuat baik, dan menunjukan wajah yang marah dan cemberut terhadap orang kafir, dan murah senyum dan wajah yang ramah terhadap orang muslim itu sendiri, seperti diterangkan dalam firman Alloh :
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً )
Dan Rasulullah Saw bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَوَادِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ
Budi Luhur Rasulullah Saw Terhadap Orang Muslim;
a. Beliau adalah seorang yang peramah, sopan santun dan tenang;
Beliau adalah seorang yang pengasih, penyayang kepada sesama, murah hati dan suka memberikan pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan, akibat kemurahan hari beliau, kerap kali beliau menanggung kesusahan orang yang sedang menderita susah dan mengalahkan kepentingan diri sendiri asalkan kesusahan orang lain dalam kebenaran. Beliau adalah orang yang sabar, tahan uji dan berani menderita, beliau adalah orang yang tabah hati, tahan marah, dan tahan dendam jika kebetulan marah, tidak ada tanda-tandanya, melainkan kerut urat yang berdiri diantara bulu-bulu keningnya, memang beliau adalah seorang yang lapang dada, dapat mengendalikan dan menahan kemarahan hatinya.
b. Beliau adalah orang yang terkenal jujur, bisa di percaya;
Beliau jujur dalam perkatan dan jujur dalam perbuatan serta sangat jauh dari sifat pendusta atau pembohong karenanya sejak muda sudah terkenal dengan nama al amin ( yang dipercaya ).
c. Beliau suka menghormati yang lebih tua dan mengasihi yang lebih muda dan beliau orang yang berterima kasih, suka membalas jasa dan tahu membalas jasa.
                                                    

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulannya, bahwa didalam Surat Ali Imran ayat 138-139 mengandung perintah untuk melakukan persiapan, menyediakan segala sesuatunya termasuk dengan tekad dan semangat yang benar, di samping keteguhan hati dan tawakkal kepada Allah. Supaya kita bisa meraih keberhasilan dan mendapatkan apa yang kita inginkan, seta dapat mengembalikan kerugian atau kegagalan-kegagalan yang telah diderita.
Pada Surat Al Fath ayat 29 ini mengandung perintah untuk mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia, menunjukkan bahwa seorang hamba haruslah selalu sujud dan taubat kepada Allah Swt, serta mengingatkan kepada manusia untuk selalu menyenangkan orang lain.


B. Saran
Demikianlah makalah ini penulis ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Tafsir 2  pada Jurusan Pendidikan Agama Islam semester VI.  Apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangan penulis meminta kepada pembaca umumnya dan khususnya kepada bapak dosen mata kuliah Tafsir 2  ini untuk memberikan saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini. Mudah-mudahan Allah Swt senantiasa memberkahi kita semua. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
                                           











DAFTAR PUSTAKA



Departemen Agama. Al-Qur'an dan Terjemahannya. 1989. Semarang: Toha Putera.

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi. 1993. Semarang: PT. Karya Toha Putra.

Al-Syeikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir. 2003. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zilalil-Qur’an. 2004. Jakarta: Gema Insani.








































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar